Sampai kapan harus begini?? Yang jadi teman hanya rasa bosan dan ketidak pastian. Setiap mereka semua muncul hanya satu hal yang terbersit di otak, yaitu tentang “suatu hari nanti”.
Aku seakan kembali menuju kenyataan. Jadi selama ini apakah aku hanya ada dalam khayalan? Kenyataan bahwa aku hanya menjadi pelengkap kebahagiaan orang-orang di sekitarku untuk sesaat. Setelah mereka cukup bahagia, lalu aku kembali terdampar di sini sendiri. Aku dititipkan pada dunia yang penuh kemunafikan. Saat senang kubagi bersama dan saat sedih kutelan sendiri. Ada baiknya aku pikirkan soal diriku sendiri saat orang lain juga melakukan itu untuk diri mereka sendiri. Lari.
Dalam hidup pasti akan ada masalah yang dateng ke diri kita. Ada dua hal mendasar soal masalah itu, berasal dari hal besar dan berasal dari hal kecil. Kalo masalah yang berasal dari hal yang kita anggap besar itu akan terasa sangat wajar. Tetapi gimana jadinya kalo masalah berasal dari hal kecil yang kemudian dibuat atau dibiarkan membesar?
Gue ini orang yang sederhana dan ga suka hal ribet (apalagi hal mudah yang dibuat ribet). Berbagai hal itu gue anggap udah ada porsinya. Kalo emang perlu kerumitan, hal itu akan gue anggap wajar sebagai hal rumit(ribet). Tapi kalo emang sesuatu itu merupakan hal sederhana (mudah) yaudah dianggap aja mudah. Membuat rumit sebuah hal yang sederhana itu akan buang waktu, tenaga, pikiran dan intinya SIA-SIA.
Hal kaya gini terjadi di banyak bidang di berbagai sendi kehidupan kita. Sesuatu yang harusnya mudah malah dibuat jadi susah dan hal itu dilakukan secara sadar. Mulai dari birokrasi yang ngurusin negara ini, penegakan hukum sampai masalah pribadi entah hubungan kita dengan orang tua, teman atau pasangan.
Ketika hal ini terjadi, kemudian ada pemikiran logis yang menyambar gue seakan truk besar bermuatan beton lewat persis depan muka gue (drama). Logisnya gini, kalo hal kecil aja dibuat menjadi masalah besar, terus gimana kalo dihadapkan sama masalah besar? wah gak kebayang deh tuh akan ada berapa banyak waktu, pikiran dan tenaga yang dihabiskan kalo sesekali dihadapkan masalah besar.
Gue sih mikirnya kalo emang hal itu dianggap sebagai hal kecil yaudah biarin aja hal itu tetap kecil. Akan lebih mudah diselesaikan toh kalo hal kecil tetap dibiarkan kecil. Yang bahaya ketika dihadapkan sama masalah besar dan itu pasti akan jadi berlipat ganda besarnya. Ya, jangan sampai masalah dalam hidup justru jauh lebih besar dari hidup itu sendiri. Hal terbesar dan terindah yang kita punya kan hidup kita, kalo masalah dalam hidup lebih besar dari hidup itu sendiri berarti kita gak hidup kan. Kita jadinya sama saja menjalani masalah dan bukan menjalani hidup. Bagi gue kita ini harusnya menjalani hidup dan bukan menjalani masalah.
Tulisan ini hal kecil dan semoga tetap akan kecil setelah dibaca :D
Official U.S. Marine Corps photo by Cpl. Reece Lodder
Rochester, N.Y.- Staff Sergeant Javier Ortiz-Rivera called his boys his little Marines. He loved playing with them and teaching them how to salute and stand tall.
The youngsters used those lessons to bid their father farewell. Wearing tiny Marine uniforms made especially for them, they saluted their father as he was laid to rest at Arlington National Cemetery.
Seventy family members and friends attended the service to honor Sergeant Ortiz-Rivera. It was his wish to be buried there.
Family members say Javier sensed he was in danger weeks before he was killed in Afghanistan.
In a letter dated the week before he was killed, Javier’s brother Orlando says, Javier told his wife Veronica, he was exhausted and was tired of being shot at. Ortiz says he thinks his brother sensed he was in danger. At one point, Javier told his wife, “time seems to be slipping away.”
Orlando Ortiz says his brother never questioned his service to his country and loved what he did.
Though his family is devastated, Orlando says they are very proud of Javier and know his children will be so proud, once they understand who their father was and that he died fighting for his country.
U.S. Navy photo by Petty Officer 3rd Class Will Tyndall